Banyak orang berharap bisa hidup sampai tua. Bahkan, kalau boleh memilih pasti ingin hidup terus dan tak pernah mati. Apalagi jika anda adalah orang yang kaya raya dan hidup penuh kebahagiaan, pasti ingin hidup selamanya.Tapi kenyataan berkata lain, apapun dan siapapun yang hidup pasti akan mati. Ini adalah sebuah hukum alam yang tidak bisa diingkari, tak bisa ditolak.
Namun sejumlah orang berpandangan lain, mereka tidak ingin hidup sampai tua. Kalaupun hidup sampai tua, tapi sehat wal afiat jiwa dan raganya. Alasannya, menjadi orang yang sudah tua renta itu sangat sulit, sangat menyakitkan. Terlebih lagi menyusahkan orang lain, terutama keluarga dan anak-anak. Bayangkan jika anda dikaruniai umur 100 tahun, tapi anda jompo, seluruh gigi sudah tanggal, semua anak sudah hidup sendiri-sendiri dan tak ada yang mau mengurus anda. Pasti akan sangat menyakitkan. Atau bahkan, anda hidup renta, tubuh sudah jompo, tak punya satu keluargapun yang ada di dekat anda. Hidup anda sakit-sakitan di sebuah rumah yang tak layak, atau di panti jompo, pasti juga sangat menderita. Apalagi, fitrah manusia selalu berulang, akan kembali lagi menjadi anak-anak lagi jika beranjak renta. Bayangkan, anda dengan kesadaran penuh, tapi punya sifat kayak anak-anak, pasti sangat tidak enak. Jika sudah begini, seluruh harta benda menjadi tak begitu berguna, tak bisa dinikmati.
Akhir-akhir ini, berbagai media massa menyiarkan kondisi kesehatan Suharto dari detik ke detik. Semua orang tahu betapa nyerinya merasakan sakit seperti Suharto, sulit bernafas, apalagi bergerak. Beberapa organ tubuh telah diganti atau setidaknya ditopang dengan alat-alat atau mesin ciptaan manusia. Lama-lama jadi persis seperti robot, organ tubuhnya diganti dengan sistem mekanis ciptaan manusia. Belum lagi tuntutan sejumlah warga yang menginginkan kasus hukumnya dilanjutkan. Wah, kalau sudah begini, punya uang triliunan pasti tidak bisa dinikmati lagi….
Euthanasia. Kata ini kerap muncul mewarnai kondisi seseorang yang sudah tidak normal beberapa organ vitalnya. Daripada sakit berkepanjangan tiada akhir, lebih baik disuntik mati saja. Lagipula, apalah artinya hidup jika seluruh organnya sudah diganti dengan sistem mekanis. Tentu saja kehidupannya sudah tidak sempurna lagi, tinggal kehidupan yang aritifisial saja. Euthanasia memang bagai buah simalakama, tidak mati sakit yang teramat sangat, tapi mau mati juga takut.
Tapi penentang euthanasia terus menggelorakan anti euthanasia. Kalangan ini berasal dari penganut agama dan penyokong HAM. Mereka berpendapat, bagaimanapun keadaan seseorang tetap berhak untuk hidup, mereka juga mengatakan membunuh seseorang meski demi kebaikan sekalipun tetap saja merupakan perbuatan dosa. Jadi euthanasia tetap mereka tolak. Mereka beranggapan, vonis hidup mati urusan Tuhan, manusia tidak boleh ikut campur.
Ada satu cerita menarik tentang hal ini. Di sebuah kota, hiduplah orang yang sangat kaya. Hidupnya bergelimang harga dan kekuasaan. Apapun yang diinginkannya pasti bisa didapat dalam waktu sekejap. Karena takut kenikmatan dunianya hilang, dia mencari sebanyak-banyaknya dukun untuk melindunginya, melindungi jabatan, bahkan melindungi nyawanya. Berbagai jimat juga telah dikoleksinya untuk melindungi dirinya. Karena kekuatan dukun dan jimatnya luar biasa hebat, dia bisa berkuasa tanpa pernah ada yang menggantinya. Bahkan, dia mampu hidup sampai tua tanpa pernah sakit. Tapi, sebagai manusia biasa, dia tetap terkena hukum alam. Jiwa dan raganya digerogoti oleh usia.
Hingga akhirnya, dia jatuh sakit. Berbagai upaya dilakukan dukun-dukunnya untuk menyehatkannya. Berbagai daya dilakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Kini, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jimat sakti yang dipasang di tubuhnya ternyata tidak bisa pergi, bahkan tidak bisa diambil karena pemasangnya sudah meninggal dunia. Semua kebingungan, semua mencari cara untuk menangani kasus ini. Sementara si kaya raya ini sudah tidak bisa berbicara, tidak bisa lagi berdialog, bahkan sudah tidak bisa mengenali orang lain.
Akhirnya, seluruh keluarganya mengadakan rapat. Mereka ingin agar si kaya raya ini tidak menderita berkepanjangan. Mereka memutuskan mencari dukun dan obat supermanjur atau dibunuh saja. Mereka pun kelabakan karena ternyata sudah tidak ada lagi dukun sakti yang mampu mengobati maupun membunuhnya karena si kaya raya ini sudah keburu kebal oleh beragam jimat yang dipasang di tubuhnya. Sementara si kaya raya sendiri juga tidak bisa berbuat apa apa selain merasakan pedihnya rasa sakit.
Hingga suatu saat, si kaya raya ini mimpi bertemu si dukun yang telah memasang jimat antikematian di tubuhnya. Dalam mimpi itu, si dukun bilang, jika ingin mati, dia harus melepas jimatnya. Si kaya raya berkata, sampai saat ini tidak ada orang yang bisa mencabut jimat di tubuhnya. Si dukun berkata, hanya dirinya sendirilah yang bisa melepas jimat itu. Si kaya berkata lagi, jangankan melepas jimat di tubuhnya, bernafas saja sangat sulit. Akhirnya, si dukun berkata lagi, memang dia tidak bisa bergerak atau melakukan tindakan apapun, tapi untuk urusan yang satu ini, si kaya raya pasti bisa. Lalu si kaya raya berkata, apa sebenarnya jimat yang harus dilepasnya. Sang dukun mengatakan bahwa jimat itu adalah harta dan kekuasannya…


aku tak berharap mati setelah tua
juga tak berharap mati disaat muda
aku hanya berharap hidupku memiliki arti
aku hanya berharap saat mati aku tahu dan siap
yap suwetuju ki daeng, hidup memang harus berarti. tapi harapan manusia hanyalah sebatas harapan, karena manusia bukanlah sang pemilik hidup. jika manusia berharap semua yang terbaik untuknya, lalu hidup punya siapa?
yang hidup bukan aku tapi Aku, maka hidup adalah punya Aku. Wah begadang kita neh
Nah, kalo itu aku baru setuju bang…
-puisi-puisinya makin bikin orang gelagepan aja neh…
wow…wow… beraaat, ga ikutan. sitenya keren
wah pagi2 pak manager udah ngeblog neehhh…. gimana udah kembali ke tanah kelahiran sandemoning, hehehe…
sory pak dab, aku nempelin blog ini ke link pak dab, dan maturnuwun sudah mampir…