Gerakan berpikir positif memang cukup membantu meringankan beban masyarakat di tengah sumpeknya kondisi perekonomian bangsa saat ini. Selain mengajak untuk berbuat kebajikan, berpikir positif ternyata juga membentuk pribadi unggul. Bahkan, bila peminat ideologi baru ini diikuti dan dijalankan banyak orang, tentu saja akan mampu mengubah alam semesta menjadi lebih baik, lebih manusiawi.
Berpikir positif, selain mengurangi dosa massal, juga membuat atmosfer alam semesta menjadi lebih sejuk. Gerakan ini memang perlu terus digaungkan di semua tempat, di semua lini, di setiap waktu. Perlu dilakukan demikian karena selama hampir sepuluh tahun terakhir, bangsa ini dipenuhi oleh hujatan, umpatan, iri dengki dan emosi lainnya yang telah membuat udara menjadi sesak, panas. Tulisan ini sudah pernah saya posting sebelumnya di milirwae pada Desember tahun lalu.
Banyak penelitian membuktikan, suhu udara yang panas telah membuat suhu tubuh menjadi naik sehingga mudah tersulut emosinya. Jika pikiran tidak tenang, membuat keputusan atau kebijakan pasti juga tidak jernih. Saat kecil, guru ngaji pernah bilang, orang mudah marah atau emosi kalau hatinya panas. Hati manusia bisa panas karena dirasuki setan, dan setan terbuat dari api yang panas. Api setan ini, kata guru ngaji itu, berasal dari percikan neraka. Makanya, guru ngaji menyarankan segera berwudhu saat sedang marah, karena setannya akan mati diguyur air suci.
Untuk itu, maraknya gerakan berpikir positif akhir-akhir ini cukup menyejukkan. Tidak hanya mencegah orang berbuat kejahatan, tapi sekaligus mengajak manusia menciptakan kedamaian, kesejukan alam semesta. Dengan berpikir positif, tidak ada lagi iri dengki, tidak ada lagi dusta, tidak ada lagi kejahatan.
Tapi, penelitian sebuah institut yang khusus meneliti otak manusia, berpikir positif saja tidak cukup. Karena, berpikir positif ada di otak manusia, sedangkan kedamaian ada di hati dan jantung manusia. Organ yang dipakai berbeda. Sehingga, banyak orang mencoba berpikir positif tapi hatinya bertentangan, tidak bisa menerima secara tulus. Akibatnya, terjadi tekanan batin.
Untuk itu, kata peneliti ini, diperlukan upaya yang lebih dari sekedar berpikir positif, yaitu keikhlasan. Dengan keikhlasan, otak akan secara otomatis mengeluarkan pikiran yang positif. Keikhlasan berarti penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan. Meski demikian, ikhlas bukan berarti lemah, bukan berarti menyerah atau tidak mau berusaha. Bahkan, menurut institusi ini, kekuatan terdahsyat di alam semesta ini justru terletak pada keikhlasan ini.
Kekuatan benda jelas kalah dibandingkan dengan kekuatan atom yang lebih halus. Kekuatan atom ini akan kalah dengan quanta atau energi vibrasi yang jauh lebih halus dari atom. Energi vibrasi dan quanta yang dipercaya sebagai roh dari semua hal ini tidak tampak oleh mata. Energi vibrasi ini juga dipercaya sebagai tangan Tuhan yang sudah pasti kekuatannya tidak terbatas.
Kemampuan otak manusia itu ternyata hanya 12 persen saja, sedangkan 88 persen sisanya adalah kekuatan alam bawah sadar ini. Jika betul demikian, berarti kekuatan otak manusia yang sudah terbukti dahsyat ini, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan alam bawah sadarnya. Celakanya, kekuatan bawah sadar ini hanya sedikit sekali yang bisa memanfaatkannya, mengajaknya berdialog dan mengarahkannya untuk tujuan yang lebih besar.
Untuk memanfaatkan kekuatan dahsyat alam bawah sadar ini, manusia perlu mengerti ukurannya. Kekuatan ini berada pada gelombang alfa, 8-13,9 Hz. Jika manusia bisa merekam gelombang berkekuatan 8-13,9 Hz itu, manusia akan mudah bercengkrama dengan alam bawah sadarnya. Gelombang ini bisa ditangkap di keheningan, bisa ditemukan pada suara alam yang hening dan damai. Pada suara angin di pegunungan, atau gemericik air di mata air yang tenang.
Jika keikhlasan sudah menjadi bagian hidup manusia, jika keikhlasan mudah mampir dalam setiap tarikan nafas manusia, maka apapun keinginan manusia akan mudah terwujud. Setiap doa akan mudah terkabul. Karena, pada gelombang ini terletak tangan-tangan Tuhan yang bekerja secara otomatis untuk mewujudkan setiap keinginan alam semesta, termasuk manusia.
Banjarbaru, Kalsel
Kamis, 6 November 2007


Berpikir positif merupakan energi untuk berbuat baik. Tapi berbuat baik saja tidak cukup…diperlukan keikhlasan…nahh ini yang sulit dilakukan. Padahal kalau kita selalu berpikir positif dan ikhlas dalam melakukan sesuatu kebaikan, hati akan aman dan damai….
=== memang keikhlasan merupakan hal yang cukup sulit dilakukan, tapi kalo kita sadar bahwa semua yang ada di alam semesta (anak, istri, suami, harta benda dll) ini milik Tuhan, tidak ada yang perlu kita pertahankan, serahkan semua kepada Tuhan karena itu milik NYA. Nah, di situlah hakikat keikhlasan. ===
matur nuwun bu, sudah mampir
Sepertinya memang teman seiring sejalan antara ikhlas dan positive thinking. Karena saya sering mendengar orang yang mengeluh, sulit untuk ikhlas karena apa?? karena didalam benaknya masih terdapat negative thinking.
Misalnya : “Enak aja diikhlasin. Ga bisa .. mesti kita balas. Biar kapok.” atau lainnya. Yang pasti .. orang ikhlas biasanya positive thinking.
Good posting.
yup, setuju bung erander. keikhlasan memang selalu melahirkan kebaikan termasuk positif thinking. tapi positif thinking belum tentu melahirkan keikhlasan loh.
contoh: ” saya ingin menyumbang sebuah masjid”. Ini adalah bentuk positif thinking yang bahkan bisa dilanjutkan dengan tindakan yang baik.
Tapi, menyumbang masjid belum tentu ikhlas, karena ada banyak tujuan, mungkin karena ingin dikenal orang, ingin pamer, ingin de el el.
jadi, sebaiknya positif thinking memang harus diikuti dengan keikhlasan. terlebih lagi, apa sih yang patut kita klaim sebagai milik pribadi kita. Bukankah semua yang ada di alam semesta ini milik NYA…
tks udah mampir ke blog ini bung, salam kenal