Beberapa hari lalu, saya wawancara dengan seorang milyarder muda asal Martapura Kalsel, namanya Lihan. Tidak ada yang spesial dengan penampilannya. Hanya pake kaos oblong dan sandal jepit biasa. Rumahnya juga biasa saja, tidak menampakkan rumah seorang milyarder.
Rumahnya dijaga seorang satpam yang juga tetangganya sendiri karena tidak tega melihat tetangganya menganggur. Satpam itupun hanya bertugas mencatat tamu-tamu yang datang ke rumahnya. Dari penampilannya yang lugu, semua orang, termasuk saya, pasti tidak akan menyangka kalau dia seorang milyarder. Tapi begitu diberitahu hitung-hitungan bisnisnya, saya langsung terkaget-kaget.Ya, pria kelahiran 1974 yang kini dikaruniai dua anak ini memang fenomenal. Di tahun 2007, namanya tiba-tiba saja meroket di Kalsel dan sempat disejajarkan dengan nama-nama pengusaha batu bara lainnya seperti Aman Jagau, (suami Cucu Cahyati) dan puluhan pengusaha tambang lainnya. Kehidupannya yang sederhana memang cukup unik disimak. Dia mengaku banyak orang yang tidak percaya kalau duitnya miliaran. Dia mengaku pernah diusir seorang cleaning service di sebuah hotel mewah di Jakarta lantaran mau masuk kamar presiden suite. Dia juga pernah dicueki rekanan bisnisnya yang mau dikucuri uang miliaran.
Tahun 1996 merupakan awal mula dia menerima penghasilan. Saat itu, dia sebagai guru di sebuah pondok pesantren dengan gaji sebesar Rp 750 per jam mengajar. Tahun 1997, gajinya naik menjadi Rp 115 ribu perbulan. Gaji itu habis untuk membeli bensin dan oli sepeda motornya. Dia pun nyambi jadi tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena saat itu dia sudah menikah. Saat jadi tukang ojek itulah, dia ketemu dengan pedagang intan. Setelah berkenalan cukup jauh, akhirnya dia dijadikan relasinya. Awalnya dia hanya menjadi makelar intan, tapi setelah bosnya itu melarikan diri, dia mencoba menjajaki sendiri bisnis intannya tersebut. Tentu saja menggunakan jalur-jalur yang selama ini ditekuninya.
JREEENG, waktupun berjalan. Sembilan tahun menggeluti bisnis intan, dia akhirnya mendirikan perusahaan sendiri, PT Tria Abadi Mandiri. Kini, puluhan usaha telah bernaung di bawah perusahaannya, mulai dari frenchise pisang goreng hingga rental helikopter. Dia juga punya perkebunan kelapa sawit hingga rumah makan dan kursus bahasa Inggris. Namanya kian melejit setelah membeli intan fenomenal asal Desa Antaraku Pengaron Banjar seberat 200 karat. Dia dengan enteng merogoh kocek hingga Rp 3 miliar. Kini, intan ini sudah diincar pengusaha Jakarta seharga Rp 30 miliar. Bahkan, para pengusaha intan dari Jerman siap memasarkan intan terbesar di Indonesia itu dengan harga hingga ratusan miliar.
Lalu, bagaimana dia bisa sesukses itu?
Hampir dua jam saya mewawancarai Lihan. Selama itu pula saya tidak mendapat gambaran atau perbincangan mengenai hitung-hitungan bisnisnya secara rasional, atau serumit bisnis beromzet miliaran lainnya. Dengan enteng dia mengatakan, semua bisnisnya dilakukan dengan pertimbangan ringan hati. Dia tidak pernah mau pusing-pusing memikirkan bisnisnya. Semua sudah dijalankan oleh anak buahnya. Dia tinggal memutuskan apa bisnis baru yang harus digarapnya. Uniknya, dia tidak pernah melakukan survey atau melakukan perhitungan yang rumit. Asal dia suka, dia langsung mengucurkan uangnya, bahkan hingga miliaran.
“Saya pernah mengucurkan uang Rp 2 miliar kepada seseorang, padahal saya tidak pernah mengenal orang itu sebelumnya. Bahkan sampai kini, saya tidak pernah tahu alamat dan KTP orang itu. Tapi anehnya, rekening bank saya selalu terisi uang dari orang itu,” kata Lihan enteng.
Dia mengatakan tidak pernah takut bangkrut atau ditipu orang. Semua bisnisnya dipasrahkan secara ikhlas kepada Tuhan. Setelah memasrahkan semua rejekinya kepada yang di Atas, dia memperbanyak sedekah. Rupanya, sedekah inilah yang selalu membuka pintu rejekinya selama ini. Sebelum menikmati keuntungan, dia biasanya menghitung 2,5 persen dari penghasilan untuk dimasukkan ke rekening sedekah.
Banjarbaru
Rabu, 30 Januari 2008


wah, hebat bgt!
saya sering denger, kl orang baik dan jujur akan bertemu dengan orang yang baik dan jujur lagi. Mungkin krn niatnya slalu baik akhirnya berbuah manis juga..salut!
HIYAK, suwetuju lei…
the secret bilang, apa yang kita pikirkan, itu yang akan kita dapat… jadi kalo kita mikir yang baik-baik akan mendapat yang baik, kalo kita mikir yang jelek-jelek yang kita dapat jelek.
film ini juga mengajarkan kita tentang hukum tarik menarik, jika apa yang ada di pikiran kita tentang kesuksesan, kebahagiaan dan kekayaan, maka itulah yang akan direspon alam bawah sadar kita. Secara otomatis.
tks lei atas kunjungannya yang bertubi tubi…
zakat..zakat..zakat…
itu kunci-nya ya…
HIYAK, bos…
dalam sesi wawancara itu, Lihan juga cerita: pada suatu hari, tiba-tiba saja dia pengin nyumbang masjid sebesar Rp 500 juta. Akhirnya, hari itu juga dia jalan-jalan keliling, dan akhirnya ketemu sebuah masjid. Dia pun memberikan uang Rp 500 juta itu ke pengelola masjid itu.
Saat dia pergi ke bank, dia terkejut karena ternyata rekeningnya telah bertambah Rp 1 miliar. Sampai saat ini, dia tidak pernah tahu siapa yang mengirim uang Rp 1 miliar itu. Begitu juga saat dia cek ke bank, bank tidak pernah tahu siapa pengirimnya, tapi yang jelas, hingga saat ini uang itu tidak ada yang mempermasalahkannya. ajaib bukan…
Memang rejeki datangnya dari tempat yang tak diduga-duga ya tuan
iya pakdeh goop, memang jodoh, rejeki dan hidup mati sudah ada yang ngatur….
aku sendiri banyak loh mengalami kejadian-kejadian aneh seputar rejeki ini. memang setelah mencoba konsep sedekah ala Erbe Sentanu dan ustadz yusuf mansyur, rejeki itu datang secara tiba-tiba. datang begitu saja tanpa dinyana…
hehehe kunjungan bertubi2 yak? oh ow..aku ketauan.! jadi maluw
what else can i say? i like reading your blog!
inggih, maturnuwun lei… sukses untuk anda
makin banyak memberi, makin banyak yg bakal di dapet, gitu kan, om?
buwetul mas warmorning yang ternyata tetangga dewe di Banjarbaru…
terkesan bangat ama tetanggaannya..
hahaha.. warmorning bisa aja, ikut inves juga kah? situ daftar di kayuhbaimbai kah?
http://sandemoning.wordpress.com/2008/01/30/ngobrol-dengan-milyarder/
Kalo boleh komentar. Ini menurut pandangan subyektif saya lho pak.
Sepertinya tidak terlalu baik apabila kita terlalu menggantungkan diri pada Tuhan. Karena ada doktrin ‘manusia berusaha, Tuhan-lah yang menentukan‘, akhirnya manusia-manusia hanya berusaha sebisanya saja (tidak seoptimal mungkin), lalu sisanya hanya berharap dan mempercayai bahwa Tuhan akan ‘mengerjakan’ separuh sisa pekerjaannya. Mending kalo bener usahanya itu akhirnya membuahkan hasil yang baik, ia patut bersyukur untuk itu. Tapi apabila pada akhirnya hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapannya, yang ada hanyalah manusia tersebut ‘menyalahkan’ Tuhan atas hasil akhir yang diperoleh. Padahal [menurut saya] Tuhan terlalu agung untuk ikut campur dalam urusan makhluk bernama manusia.
Atau implikasi lainnya, manusia-manusia tersebut jadi berpikiran tidak realistis. Karena [lagi-lagi] ada doktrin yang menyebutkan bahwa Tuhan akan membalas amal baik manusia berpuluh-puluh kali lipat, manusia tersebut jadi tidak berusaha seoptimal mungkin, hanya berusaha sebisanya dan menyerahkan sisa pekerjaannya kepada Tuhan. Si manusia itu mungkin akan berpikir ‘ah, Tuhan pasti ngebantu gue dapetin hasil yg gue inginkan. Wong saban hari jum’at gue suka masukin duid 100ribu ke kencleng masjid kok’. Kemudian, usaha si manusia itu ternyata tidak mencapai hasil yang diharapkan. Yang ada hanyalah perasaan kecewa kepada sang Tuhan.
Padahal sebenarnya tidak seperti itu, Tuhan terlalu agung untuk sekedar berperan sebagai ‘pembantu’ manusia. Peranan Tuhan tidaklah seperti itu, ia-lah zat yang maha agung yang telah menciptakan alam ini. Dan hubungan kita kepada-Nya adalah hubungan antara hamba dengan Tuhan, bukan hubungan bisnis ’situ bayar, gue kasih barang’.
Kalau untuk kasus bapak milyarder di atas, saya yakin beliau menyumbang ke masjid bukan sekedar nyumbang, tapi disertai banyak amalan baik lainnya. Kemudian saat menyumbang, pasti dipenuhi keikhlasan dan niatan yang baik, tanpa disertai harapan untuk mendapatkan sebutir pasir pun dari Tuhan. wallahualam
Terakhir, menurut saya, kita, manusia, dalam kehidupan ini, sebaiknya berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuan sendiri. Bila ingin memulai bisnis, ambillah langkah-langkah terbaik yang memang diperlukan untuk memulai bisnis itu, apa itu survey, mencari relasi, koneksi dll, pokoknya langkah yg terbaik. Kemudian ketika menjalankan bisnis itu, sebaiknya lagi, kita tetap berpedoman pada hukum-hukum yang sudah ada, atau boleh dibilang “syariatNya”. Dan saat menerima hasil, apabila tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita sewajarnya menyesal. Tapi penyesalan itu hendaklah segera diakhiri, untuk kemudian melakukan introspeksi pada diri sendiri, tanpa perlu protes karena mengharap Tuhan berbuat sesuatu. Sedangkan bila hasil yang diperoleh adalah hasil yang baik, kita sewajarnya merasa bangga / puas pada diri sendiri, tapi tentunya diimbangi perasaan bersyukur yang mendalam kepada Tuhan, karena hasil yang baik / buruk, dua-duanya toh adalah rahmat dan karunia dari Tuhan.
Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.
Mohon maaf apabila ada kesalahan
ketikkata atau komentarnya kepanjangan. Dan sekali lagi, ini adalah pandangan subyektif dari diri saya pribadi.Terimakasih.
==gm==
Bagus sekali ulasannya, saya suka dengan pemikiran anda.
Menurut pandangan (subjektif) saya:
1. agama adalah soal keyakinan, sedangkan letak keyakinan ada dalam hati, bukan di dalam rasio (otak).
2. dalam literatur terkini dan juga penelitian tentang “kekuatan manusia” yang sudah banyak beredar, bahwa kekuatan otak ternyata hanya 12 persen dari seluruh kemampuan manusia, 88 persen sisanya adalah campur tangan pihak lain seperti: Tuhan, alam semesta, dewa, sang maha, gusti, dll.
Ada buku-buku bagus tentang masalah ini: Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, buku-buku karya Gede Prama, dan juga The Secret karya Rhonda Byrne.
3. dalam kitab suci disebutkan (ayatnya saya lupa), Tuhan berkata: Mintalah, dan pasti akan saya beri. Artinya, memang ada unsur “minta dan diberi” (bisa dikatakan bisnis). Sebagai manusia biasa, rasanya terlalu sulit saat kita berdoa atau bersedekah tanpa mengharap imbalan (entah berupa pahala, atau berupa materi lain).
dalam bagian lain di kitab suci yang saya yakini, Tuhan justru menyuruh umatnya untuk selalu meminta, berdoa dan bergantung pada NYA. yang tidak boleh adalah bergantung selain kepada NYA.
4. menurut saya, manusia dan juga alam semesta tidak akan pernah lepas dari campurtangan Tuhan. Kalau Tuhan lepas tangan, siapa yang ngurus peredaran planet dan jagad raya ini? siapa yang akan memelihara inti bumi yang berwujud api yang panasnya mencapai jutaan derajat itu? siapa yang akan memelihara pertemuan sel sperma dan telur hinga menjadi janin dan manusia?
5. ada banyak kasus kejadian yang terjadi di luar nalar manusia. contoh: seorang penderita stroke dan pernah koma selama seminggu, tapi ternyata sudah hampir dua tahun terakhir ini masih keliling dunia naik sepeda onthel? soal ini saya ada tulisan dan wawancara dengan penderitanya di http://www.milirwae.blogspot.com
6. ya itulah manusia. terkadang karena kelemahan daya nalarnya, selalu menimpakan (mencari kambing hitam) kesalahannya kepada pihak lain, termasuk kepada Tuhan.
7. yang paling saya suka dengan komentar anda adalah: ===”karena hasil yang baik / buruk, dua-duanya toh adalah rahmat dan karunia dari Tuhan”===
8. maturnuwun atas masukannya yang mencerahkan…
Saya pribadi sangta setuju dengan syiar Ust YM tentang Indahnya Bersedekah. Dimana Allah telah menjanjikan bahwa hamba yang mudah untuk bersedekah akan dimudahkan segala urusannya karena memang rejeki datangnya dari segala arah dan tidak hanya berupa UANG.