Ada dua kata sederhana, tapi sangat dalam maknanya, cinta dan syukur. Dua kata sederhana inilah, yang selama ini membuat dunia selalu terasa indah. Tapi sayang, manusia terlalu menyombongkan rasionya. Sehingga, dua kata indah ini menjadi kehilangan maknanya. Bahkan, dua kata ini sering dijadikan sebagai alat pembenar rasio untuk tujuan-tujuan materi belaka.
Maka tak heran, ketika cinta telah tiada, seorang bayi merah harus dibuang ke selokan. Seorang bayi mungil yang masih lengkap dengan ari-arinya ditemukan tergeletak di dalam kardus di pojokan tempat sampah. Padahal, sebelum bayi tak berdosa itu terlahir, berjuta kata cinta diumbar di dalam kamar-kamar mesum. Kata cinta dijadikan sebagai sebuah legalitas, sekaligus pembuktian untuk berbuat mesum pasangan dimabuk nafsu.
Cinta, merupakan sebuah kata yang berarti kehangatan seorang
ibu yang sedang menyusui bayinya sambil berdendang. Cinta merupakan sebuah dekapan hangat seorang nenek kepada cucunya. Cinta merupakan sesuap bubur hangat yang disodorkan seorang cucu perempuan mungil kepada kakeknya yang sudah renta dan tak berdaya. Cinta merupakan secangkir kopi pagi yang disodorkan seorang nenek kepada suaminya yang telah berusia senja.
Syukur, merupakan tindakan yang tercipta karena cinta. Syukur adalah ungkapan terima kasih atas karunia indah bernama cinta. Dua kata ini, sungguh membuat dunia terasa damai dan indah. Dengan syukur, manusia akan selalu berkelimpahan cinta. Dengan syukur, manusia akan selalu didatangi cinta. Kabar baiknya, cinta dan syukur ini bisa mampir ke semua tingkatan kesejahteraan. Maka, jangan sia-siakan dua kata indah ini.
Banjarbaru
10 Februari 2008

