Desa Sungai Luar dan Bunglai Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar Kalsel sangatlah sepi. Tiap hari, hanya ada kicauan burung dan dengungan serangga di desa yang terletak di atas bukit ini. Sesekali ada suara kecipak ikan besar yang berhasil ditangkap pemancing yang menyewa perahu-perahu kecil. Hutan desa ini masih asri. Udaranya pun sangat sejuk karena banyak tumbuh pohon pinus dan beragam pohon buah mulai dari rambutan hingga durian.
Dua desa ini terletak di tengah Waduk Riam Kanan. Sebelumnya, desa ini seperti layaknya desa biasa, tapi setelah ditenggelamkan bersama 10 desa lainnya untuk dijadikan waduk, warganya pindah ke puncak-puncak bukit. Untuk menjangkau desa ini, ditempuh dengan perjalanan darat selama 45 menit dari Martapura, dan dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan perahu selama satu jam.
Selama satu jam perjalanan air, kita disuguhi pemandangan air yang hijau. Sesekali ada burung-burung pemakan ikan yang terjun ke air dan naik lagi sambil membawa ikan di paruhnya yang panjang. Di tepi-tepi waduk banyak karamba-karamba terapung milik nelayan. Maklum waduk ini merupakan penghasil ikan tawar terbesar di Kalsel. Sesekali ada juga lambaian tangan yang ramah dari para nelayan yang sedang memancing atau menjaring ikan di waduk ini.
Di beberapa bagian di tepi waduk, masih terlihat tonggak-tonggak bekas rumah dan pohon-pohon besar tanpa daun. Meski benda-benda purba itu sudah tenggelam sejak puluhan tahun lalu, tapi masih tetap bertahan hingga kini. Warnanya kebanyakan sudah menghitam dimakan usia. Sampai di Desa Sungai Luar, kita akan disambut senyuman ramah petani setempat. Sesekali mereka akan menyuruh kita mampir ke rumah mereka yang terbuat dari papan dan beratap anyaman daun nipah.
Itulah pemandangan sebelum empat bulan yang lalu. Kini, pemandangan itu sudah banyak berubah. Tidak ada lagi suara serangga di desa ini, apalagi kicauan burung dengan sayap berwarna-warni. Sapaan ramah penduduk juga mulai berganti dengan beragam kata tawar menawar. Nyanyian alam yang merdu dan simetris dengan getaran jiwa manusia itu, kini telah berganti dengan suara deru mesin-mesin. Sombong dan pongah. Memekakkan telinga, mengiris hati bagaikan lempengan logam yang diseret di atas taburan pasir kasar.
Ya, sejak empat bulan lalu, desa ini telah berubah menjadi negara industri kecil. Jumlah penduduknya telah mencapai ribuan orang. Kebanyakan mereka adalah pendatang. Mereka membawa anak dan istri serta saudara-saudara mereka yang bertubuh hitam pekat nan kuat. Merekalah para penambang emas. Istri-istri mereka membawa baju, barang kelontong, mie instan, dan barang lain dari kota untuk dikreditkan kepada warga lokal dan penambang.
Praktis, empat bulan terakhir telah terjadi lonjakan perubahan ekonomi yang sangat drastis. Kini, desa ini telah dipenuhi puluhan sepeda motor keluaran terbaru, hampir seluruh rumah sudah dihiasi parabola dan televisi berukuran besar. Anak-anak mereka menyanyikan lagu peterpan, radja, atau bahkan mulan jameela, menggantikan siulan burung-burung emprit dan manyar.
Perubahan itu tidak dapat dihindari. Maklum, kini mereka telah menjadi orang kaya baru. Para penambang emas. Hanya dengan mengangkut satu karung berisi batu dan tanah yang bisa disaring menjadi emas sejauh 500 meter saja, mereka memungut biaya ojek Rp 15 ribu. Uang semakin tak ada harganya. Mau uang Rp 250 ribu atau Rp 500 ribu perhari? tinggal menggali tanah dan batu berisi biji besi saja di belakang rumah. Para penambang di desa ini, bisa mengumpulkan emas hingga 600 gram per hari. Coba hitung dengan harga emas saat ini.
Ya, Martapura memang tanah tambang. Di mana-mana selalu ada intan, emas, mangaan, batu bara, atau kromit. Semua bahan tambang itu berharga mahal, berkualitas ekspor. Jadi jangan heran, di kabupaten kecil berpenduduk 700 ribu jiwa ini terdapat puluhan mobil berharga miliaran rupiah, seperti Hummer, Landcruiser, bahkan rollroyce panthom sekalipun. Tak heran jika bupatinya pake mobil dinas volvo dan Landcruiser Prado keluaran 2006 serta dua mobil dinas lainnya.
Tapi yang membuat miris hati kita, meski kekayaan ini dikeruk sejak sebelum kemerdekaan hingga kini, masih saja banyak penduduk di belahan desa lainnya yang hidup miskin dan teramat miskin. Hanya ada beberapa orang saja yang bisa menikmati uang tambang itu, beberapa pejabat, dan bos-bos dari Jakarta, atau bahkan dari Singapura, Taiwan dan Amerika.
Fakta terakhir, kawasan tambang emas itu harus ditutup, Kamis 14 Februari. Pemerintah setempat dengan tegas melarang penambangan emas itu. Alasannya, letaknya di kawasan hutan lindung. Selain itu, pembuangan merkuri sisa tambang emas di waduk Riam Kanan itu bisa mengancam jutaan penduduk di Kabupaten Banjar, Banjarbaru dan Banjarmasin. Karena, air waduk itu dipakai sebagai bahan baku air minum PDAM setempat. Jika mengandung merkuri, bisa mengancam nyawa penduduk. Minamata mengancam.
Banjarbaru,
15 Februari 2008


Wah pas palentine malah penutupan ya mas…
saya denger memang banyak kandungan batu mulia disana, dan perubahan penggunaan lahan terjadi, sayang perubahan perilaku pun mengikuti…
apakah ini sebuah kejamakan dari budaya itu??
ah paman goop bisa aja bicara melankolis. kalo saya mah sudah ketuaan bicara valentine, tahunya cari duit buat beli susu anak tuh paman.
soal batu mulia di sini, kadang saya juga merinding mas, dimana-mana ada intan dan emas. tahun baru kemarin juga ditemukan intan terbesar di indonesia, mungkin di Asia, besarnya 200 karat. intan itu laku dijual Rp 3 miliar. terakhir intan itu malah ditawar RP 30 miliar oleh orang Jerman.
soal perubahan budaya dan perilaku, sudah pasti mas. materi memang paling kuat dalam andil mengubah budaya. Ya bayangin aja, dari miskin tiba-tiba jadi miliarder, pasti “budaya” nya langsung berubah kan?
maturnuwun paman goop sampun mampir
waktu dan keinginan akan merubah suatu wilayah, namun jika keserakahan manusia telah ikut campur didalamnya yang tersisa hanyalah puing-puing dan kehancuran. Pada akhirnya manusia – manusia beradat akan tergantikan oleh manusia “beradab” namun biadab tidak hanya terhadap lingkungan namun juga terhadap dirinya sendiri. Apa daya suara-suara yang menyuarakan kelestarian akhirnya terbang bersama deru alat-alat berat, pompa penghisap pasir dan air, serta uang yang mengisi kepala para penambang.
wah, suara khas seorang pejuang lingkungan nih, terimakasih ki daeng atas kunjungannya. komentarnya sangat dalam…
Ya… seharusnya yang lebih diutamakan itu kelestarian lingkungan, bukan “duit” semata… Lah, lihat saja, kan… Banyak bencana yang melanda negeri kita, bukan?
setuju mas arif budiman. rasa-rasanya, alam semesta memang sedang marah karena keserahakan manusia. Banyak mengeruk kekayaan alam tanpa memperhatikan kelestariannya, makanya jangan salahkan kalau dikirim banjir, puting beliung, longsor dan bencana lainnya.
maturnuwun sampun mampir
semoga semua sadar akan dosa2nya terhadap alam…
ketika bencana terjadi, alam yang disalahkan…
kasihan alam, makanya dia jarang nongol di TV
:d
hehehe… iya mas…
slaman slumun slamet: sebuah ungkapan yang akrab di gendang telinga saya saat kuliah….
maturnuwun sudah mampir
sangat disayangkan ya mas kalo sampe kebijakan pembangunan sama sekali tidak berwawasan lingkungan. banyak hutan tropis yang kehilangan habitat, bahkan mengancam kelangsungan hidup para penghuninya akibat disulap menjadi kawasan industri. di tengah isu global warming, mestinya harus ada political will dari pemda setempat utk tdk sembarangan menjadikan kawasan hutan sbg areal industri. dari sisi ekonomi memang menguntungkan, tapi dampaknya akan lebih parah pada masa depan.
betul pak sawali. seperti pada tulisan anda yang lain tentang materialisme, memang uang sangat memengaruhi dan bahkan menyeret manusia untuk selalu tunduk, tak berkutik di bawah bayang-bayang materi.
maturnuwun
Cuma mampir, ah entahlah kasian cuma dengan membayangkan yang susah
Pak Sande…
Membaca tulisan bapak, adanya perasaan menjadi kontradikitf…
Separuhnya adalah perasaan sedih, melihat tanah dan air kita digali dan dirusak untuk memperkaya yang sudah kaya, membuat kesulitan untuk yang sudah kesulitan, mengusir kicau burung dan kebersahajaan kehidupan orang orang desa di martapura…
Separuh yang lain, sedikit senang, masih ada dari kita yang menyikapi emas dan batu mulia dengan cara berbeda, seperti pak sandemoning dan teman teman yang berkomentar di blog ini
Saya ikut kelompok yang ke dua saja…
Mari kita jaga tanah dan air kita
Tulisan yang sungguh menarik.
ang
==balisugar==
terima kasih mas sudah mampir. ya seperti itulah mas, alam semesta memang diciptakan seimbang ada kaya-miskin, besar-kecil, susah-senang. Semua itu dicipta bukan untuk dipertentangkan, tapi sebagai penyeimbang. Itulah kesempurnaan ciptaanNYA…
terima kasih kawan matakita
maaf saya cuman sekedar memotret apa yang terjadi di martapura kawan. ya begitulah adanya.
jujur saja, saat ikut penutupan tambang itu, saya tak kuasa menahan haru. Banyak anak-anak kecil tanpa alas kaki, tanpa baju, dan juga orang-orang yang sudah tua renta dengan kulit keriputnya, hanya bisa menatap pasrah tak berdaya.
Empat bulan mereka bagai hidup dalam mimpi, mereka terlanjur menggantungkan harapan hidupnya pada tambang emas itu. Setelah ditutup, seakan mereka tak punya harapan lagi, mereka harus terbangun dari mimpi indahnya.
Kini, mereka harus kembali ke kehidupan sebelumnya, menjadi petani terbelakang di tengah waduk Riam Kanan. Menjadi orang miskin di tengah kekayaan alam desanya yang berlimpah ruah. Kini, tiap hari mereka harus bergelut dengan babi hutan dan binatang buas lainnya yang siap melahap tanaman mereka.
Di sisi lain, kita memang harus tegar, harus tegas. Bahwa penambangan di kawasan hutan lindung yang tinggal satu-satunya yang tersisa itu harus bebas dari perusakan. Ini harus kita lakukan demi menghindari bencana alam yang kini kian akrab di kehidupan kita.
Terlebih lagi, penikmat kekayaan alam itu sungguh tak sebanding, warga setempat hanya dapat uang receh dan limbah merkuri saja, sementara pemilik mesin dan pemodal tambang itulah yang meniikmatinya…
terima kasih mas…