Di tengah ketidakpastian hidup saat ini, semakin banyak orang
menderita stress, frustasi, hingga depresi. Tidak heran, saat ini
penderita stroke meningkat tajam, terutama di kota besar. Banyak
masyarakat yang merasa resah, takut gagal menjalani hidupnya.
Akibatnya, hidup menjadi tidak tenang, selalu diburu sesuatu yang
tidak pasti, dibayang-bayangi oleh hantu ketidakpastian yang
dimunculkan oleh pikiran-pikirannya sendiri.
Akibatnya, manusia saling bersaing. Mereka berlomba memperebutkan
hal-hal yang semestinya tidak perlu diperebutkan. Para pekerja
sikut-sikutan, sesama saudara saling bermusuhan, bahkan saling
bunuh. Mereka beradu strategi untuk mendapatkan sesuatu yang
sebetulnya berlimpah ruah dan tidak perlu diperebutkan. Uang,
jabatan, kekuasaan, wanita, dan sederet materi lainnya adalah hal-hal yang biasa menimbulkan ketakutan.
Takut. Itulah sebuah kata yang selalu mengancam, menebar kengerian,
menebar keresahan seperti sebuah makar. Sebuah kata yang terdiri
dari lima huruf yang sengaja dimunculkan oleh pikiran-pikiran yang
tidak tenang. Sebuah kata yang bahkan bisa membuat orang melakukan
apa saja, menikam, membunuh, memfitnah atau mengadu domba.
Saya mendapat pelajaran yang sangat berharga saat ngobrol dengan
seorang petani di lereng gunung Merapi, namanya mbah Atmo.
Sepanjang umurnya yang sudah uzur, petani ini tidak pernah
mengeluh, resah atau takut. Bahkan, saat merapi mengeluarkan
ancamannya lewat semburan awan panas, dia tetap tenang, tetap
jernih, dan tetap waskito.
Baginya, segala sesuatu sudah ada yang mengatur, segala sesuatu
sudah disediakan secara cukup oleh Tuhan. Jadi, kalau semua
diserahkan kembali kepada sang pemilik hidup, tak ada lagi yang
perlu ditakutkan.
“Semua ada ukurannya. Semua ada batasnya. Kalau diberi kecukupan
(rejeki) seperti yang terjadi saat ini, maka bersyukurlah. Karena
sesungguhnya itulah kecukupan untuk ukuranmu. Hidup itu harus diisi
dengan syukur, tidak perlu ngoyo,” kata simbah Atmo.
Jadi, kata simbah selanjutnya, tidak perlu ada yang diributkan, tak
ada yang perlu ditakutkan. Semua sudah disiapkan secara cukup untuk
ukuran masing-masing. Mengejar sesuatu (rejeki) secara berlebihan,
hanya akan membuat orang merasa resah dan takut.
“Rejeki itu, semakin dikejar, akan semakin terasa kurang. Tapi
ketika sudah merasa cukup, hanya rasa syukur yang bisa dirasakan,”
kata simbah.
Jadi, orang yang suka bersaing, orang yang suka sikut©sikutan,
orang yang suka mengambil sesuatu secara berlebihan adalah orang
yang justru merasa ketakutan. Pada titik tertentu, seorang
milyarder yang masih suka mencari harta dan melupakan kehidupan
spiritualnya, adalah orang-orang yang penakut.
Banjarbaru
Jumat, 22 Februari 2008


wah, postingan mas sande mengingatkan saya pada ungkapan “trinita”, harta, tahta, dan wanita. sejak jadul, semua konflik dan kekerasan agaknya bersumber dari 3 ranah itu. orang rela melakukan apa saja ala kaum machiavelli utk mendapatkannya. prinsip mbah atmo itu juga ndak jauh beda seperti apa yang pernah diungkap oleh kis suryomentaram, “urip kuwi saku butuhe, sakcukupe* singkatnya ndak usah berlebihan. nice posting!
Ketakutan yang menjelma menjadi tindakan, sayang ya mas, merugikan diri sendiri dan orang lain, hiks.
betul pak guru Sawali, trinita itu memang membutakan mata hati. Tentang ki ageng Suryomentaram, saya malah jadi teringat kawan saya yang menjadikan ajaran-ajaran ki suryo mentaram itu sebagai bahan skripsinya…
“urip sak cukupe” juga pernah ditulis Gede Prama: “orang akan menjadi sejahtera justru pada saat dia berhenti mengejar (mencari kekayaan)…”
maturnuwun pak guru
Paman Goop yang baru pulang dari Kuta Bali, betul sekali anda… Celakanya, kebanyakan orang merasa ketakutan tanpa alasan yang jelas.
Orang takut gak punya uang, padahal uang berseliweran di depan mata kita. Orang takut gak kebagian rejeki, padahal Tuhan menciptakan makhluk lengkap dengan rejekinya. Lalu apa yang ditakutkan, yak?
Gimana kabar keponakannya paman?
Mungkin karena memang tidak hanya takut saja mas, ada juga khawatir yang berjalan bergandengan tangan. Sehingga kian menjadi-jadi ketakutan itu…
ah gitu lah barangkali hehe…
oya, ponakan saya lupa ngga bawa tissue
hehehe, salam aja buwat keponakannya….
takut, resah, khawatir menurut saya adalah satu rangkaian peristiwa kejiwaan, psikologis. Bila terus menerus dituruti, dia akan menggerogoti sang empunya, bahkan bisa menjelma menjadi monster penghancur jiwa.
ada buku bagus soal fear management karya anand krishna. Dalam buku ini diungkap: takut tidak perlu dituruti, dia hanya sesosok bayangan yang kebetulan numpang lewat di pikiran, tapi jika dia dituruti, maka akan mewujud menjadi nyata…
salam paman goop
kenapa kita harus takut….
kita harus berserah diri padaNYA…..
Pikiran yang membuat segala bentuk ketakutan, gara-gara waktu kecil diceritain hal-hal yang serem sampai sekarang saya takut dengan hantu.
Dan sepertinya lingkungan termasuk orang tua (sadar/tidak) juga turut mendoktrinkan rasa takut sedari kecil, akibatnya tumbuh manusia2 penakut. Seandainya lingkungan kita setenang & sedamai lingkungan mbah Atmo, mungkin semua jadi beda.
*wih saya koq jadi sok serius gini, padahal sepertinya ngga nyambung ya
makanya positip thingking tu penting banget dalam diri kita ..
===slamanslumunslamet== Betul mas, jika sudah ikhlas dan pasrah kepadaNYA, tidak ada yang perlu ditakutkan.
==kabarihari== Iyak, betul mas kabarihari. Takut yang ndak beralasan ya, padahal sampai detik ini kita kan ndak pernah melihat hantu tho.
Saya itu malah pengin sekali lihat hantu lho mas, kan hantu di Indonesia itu cantik-cantik, coba aja lihat sinetron, hehehe…
Kita juga ndak bisa menyalahkan sepenuhnya keluarga dan lingkungan mas, karena saya yakin, terutama orangtua kita, saat melarang atau menakuti kita, pasti punya tujuan yang baik. Minimal agar kita ndak nakal, atau tidak melakukan hal-hal yang membahayakan diri kita.
maturnuwun sudah mampir
==hanggadamai== setuju mas hangga, positif thingking bukan saja bisa menghilangkan rasa takut, tapi juga punya andil besar untuk menciptakan alam semesta ini menjadi semakin indah dan damai. terimakasih, komentarnya mencerahkan
Tuhan akan memberikan dunia jika kita mau, tapi Dia tidak akan memberikan bagiankita di akherat.
Mengejar dunia itu hina, biarlah dunia yang mengejar kita.
Dan saya yakin Kang Sande bukanlah tipe orang seperti itu. Saya yakin anda termasuk orang yang sukses.
“Mereka beradu strategi untuk mendapatkan sesuatu yang sebetulnya berlimpah ruah dan tidak perlu diperebutkan. Uang, jabatan, kekuasaan, wanita, dan sederet materi lainnya adalah hal-hal yang biasa menimbulkan ketakutan.”
wah.. ternyata perempuan itu bisa diperlakukan seperti piala ya… padahal bukan seperti itu seharusnya.
==Kang achoey betul. Kitab suci banyak agama saya kira juga mengatakan seperti itu. Akhirat sengaja tidak ditampakkan agar kita terus mengingatNYA. terimakasih atas kunjungan, doa dan sanjungannya yang bisa membuat saya jadi pingsan, hehehe. salam kenal kang achoey
Ya begitulah mbak Rain, dalam banyak buku, juga primbon, terutama primbon jawa: Harta, Tahta dan Wanita adalah ujian yang sangat berat.
Tapi menurut saya, hanya orang-orang takutlah yang mengejar-ngejar semua itu hingga melupakan segalanya, padahal semua yang ada di alam semesta ini diciptakan dalam keadaan cukup, bahkan berlimpah ruah.
terimakasih sudah mampir