Tadi pagi aku jalan-jalan ke pasar. Bukan untuk belanja, hanya sekedar jalan-jalan saja. Sekedar refreshing sambil mengingat masa kecil dulu. Kebetulan, tadi aku melihat pemandangan seperti yang pernah aku alami dulu. Ada seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun, membawa satu tas plastik berisi sayuran. Tangannya digandeng ibunya. Mulutnya penuh berisi permen yang ada tusuknya. Dulu, aku juga seperti itu, jika diajak ke pasar, selalu minta dibelikan banyak sekali jajan pasar.
Tiba di los pasar, aku melihat banyak sekali pedagang menggelar dagangannya secara lesehan. Tempat itu becek sekali karena hujan deras mengguyur malam sebelumnya, dan pagi itupun gerimis masih juga turun lamat-lamat seolah belum puas kalau los pasar itu berubah menjadi selokan dadakan. Lalat bertebaran dimana-mana, seolah saling bersaing dengan bau ikan yang menyengat. Kawasan itu terlihat kumuh sekali. Para pedagang lesehan di tempat itu menggunakan plastik untuk menaruh barang dagangan, juga untuk atap mereka. Banyak tali-tali plastik diikat ke beberapa tiang bangunan tanpa aturan. Beberapa pembeli harus menunduk agar lehernya tidak terjerat tali plastik. Pembeli juga harus rapat-rapat menutup hidungnya jika tidak ingin sesak napas.
Di antara puluhan pedagang yang berdesak-desakan itu, ada seorang nenek tua renta. Tubuhnya keriput. Bajunya sudah banyak tambalan di sana sini. Dia terlihat setia menunggu barang dagangannya, sayur-sayuran. Dagangannya hanya sedikit, dua ikat kacang panjang,beberapa buah terong, satu gundukan cabe, dan satu gundukan bawang merah. Dagangan itu diletakkan di selembar karung plastik. Hampir semua sayur yang dijualnya itu sudah rusak. Maklum, barang dagangannya hanya sayur sortiran dari pedagang sayur yang membongkar dagangannya dari truk besar di kompleks pasar itu.
Sebetulnya, sayur itu sudah tidak layak dijual, tapi demi sesuap nasi, si nenek rela memilahnya dengan teliti dan menjualnya kembali. Modal adalah alasan utama kenapa si nenek memilih sayur sortiran itu sebagai barang dagangannya. Jika beruntung, si nenek bisa mengumpulkan uang Rp 4000 atau Rp 6000 sehari. Itupun bila ada seseorang yang merasa kasihan kepadanya. Mungkin, para pembelinya akan membuang sayur yang dibelinya saat tiba di rumah. Iba menjadi alasan terbesar para pembeli memilih barang dagangannya, karena dikawasan itu ada ratusan pedagang sayur yang menawarkan barang dagangan yang masih sangat segar.
Hingga pukul 11.00 hari itu, rupanya hanya ada sedikit orang yang iba kepadanya. Akibatnya, barang dagangannya masih menumpuk di karung plastiknya. Karena lelah menunggu pembeli, atau karena alasan lain, si nenek tertidur di lembaran karungnya. Tangan kirinya digunakan untuk menopang dagunya sehingga dia tidak terjerembab dari tidurnya. Lalat-lalat berdansa merubung sayurnya. Mungkin tahu kalau sang empunya tertidur sehingga tak bisa mengusir mereka.
Sinar matahari panas, tanpa ampun menerobos si nenek melalui celah-celah atap plastik kumal di atasnya. Sinar yang menyilaukan mata itu tepat mengenai matanya yang cekung. Dia pun terbangun. Beberapa pedagang di tempatnya sudah mulai meninggalkan kawasan itu. Dia beringsut, mulai merapikan dagangannya. Mungkin hanya Rp 500 dia dapat pagi itu. Mungkin juga lebih. Semua barang dagangan itu dimasukkan ke dalam karung yang sebelumnya digunakan sebagai lambaran dagangan. Dengan langkah gontai, si nenek meninggalkan tempat kerjanya.
Bagi orang Jawa, hidup mandiri bagaikan sebuah harga diri. Tidak mau menyusahkan orang lain, bahkan keluarga sendiri, merupakan filosofi hidup, sebuah pilihan hidup. Meski sudah renta, meski anak sudah sukses semua, jualan di pasar tetap menjadi pilihan. Meski harus memulung sayur bekas, meski harus duduk berjam-jam di dekat comberan penuh lalat, tetap lebih mulia daripada menggantungkan hidup kepada orang lain, termasuk anak sendiri. Lalu bagaimana dengan sang anak, yang digendong dalam kandungan selama sembilan bulan, yang dilahirkan dengan perjuangan antara hidup dan mati, yang disusui dan dibelai dengan penuh dedikasi?


belajar pada lalat, pada sayur yang tetap bergerak. dan nenek, adalah cermin itu yang gilang-gemilang tak hirau pada uap yang memburamkan.
sebenarnya saya penasaran, saat siang apakah hari menjadi cerah bro? dan apakah dikau membeli sayurannya?
*ah maaf nih usil*
hehehe, paman terimakasih, barusan saya juga komen di blog paman, tentang pak tua yang sedang bawa gambar diri…
inilah kronologisnya:
sesungguhnya tulisan ini saya buat dua hari yang lalu, tapi karena sibuk, baru bisa saya terusin nulisnya dan posting hari ini. jadi soal rentetan waktu pasti amburadul.
pagi itu sedang gerimis, tiba-tiba saja saya ingin jalan ke dalam pasar, sekalian berteduh sambil refreshing. tapi ternyata gerimisnya cuman sebentar, dan cuaca berubah mendadak menjadi panas.
Nah, di dalam pasar itulah, tiba-tiba saja saya ingin mengasah kepekaan diri *halah* dan ketemulah dengan si nenek tua itu. Saya mencoba untuk tetap tabah dengan tidak membeli sayur si nenek. kalau saya beli, atau borong sayur si nenek, saya takut dikatakan sebagai malaikat kesiangan yang sok menolong. jadi terpaksa saya hanya bisa mendoakan saja. *halah*
begitulah kira-kira penjelasan saya paman goop, maturnuwun
bener banget mas sande, orang tua jawa jadul itu mau mau ngrepotin orang lain, bahkan termasuk anak dan saudara2nya. saya jadi ingat ibu saya di kampung. beliau memang juga belum tua amat sih, tapi masih suka juga ke kebon atau sawah, habis itu jufa masuh seirng ke pasar, jalan kaki. ndak tahu deh, kali aja itu memang sudah menjadi bagian dari filsafat hidup orang2 tua kita.
yah…pasar semakin tergusur…..oleh mall dan pusat perbelanjaan, saya ingat jadul waktu kecil sering ikut ibu ke pasar…..tapi suasananya mungkin tidak sekotor yang anda bayangkan, lumayanlah…., namun pasar-pasar tradisional sekarang banyak digusur oleh pemda dengan alasan kumuh dan jorok. Sementara para pedagang dipasar itu kemudian disuruh menyewa los pasar yang dibangun pemda dengan harga yang menurut mereka mahal, akhirnya hanya pedangang yang mampu saja yang bisa menempati loss tersebut.
Hm.. serasa berdosa setelah membaca ini, beginilah hidup, perjuangan kejam dan melelahkan, tanpa pandang usia
*sering bertanya pada diri sendiri, kapan kita sadar dan bertindak melihat keadaan seperti ini*
Hiks…
Jadi ingat dengan Emakku, yang biasanya juga kalau sudah kepepet nggak punya uang, langsung pergi ke pasar sambil menjual hasil bumi yang ada di rumah, apapun itu, walau kadang jumlahnya cuma sedikit…
Sama dengan Cak Peyek. Sedih kalau ingat hal tersebut, terus tidak bisa melakukan apa-apa. Hah, hanya bisa menangis dan berdoa…
==terima kasih pak sawali==
kisah ini sebetulnya juga terilhami dari kisah hidup nenek saya sendiri saat masih sugeng. Di usianya yang sudah renta, lebih dari 80 tahun, jalannya pake tongkat, tapi dia masih saja ngotot berjualan.
Padahal, sudah ribuan kali kami meminta, hingga memohon agar beliau berhenti saja dari jualan sayur, meski jualannya hanya di depan rumah sendiri.
Jawaban beliau tetap sama, ingin hidup mandiri, ingin bisa memberi uang kepada cucunya, (dan terutama) tidak tahan hidup tanpa kegiatan… Padahal, kami tidak pernah merasa direpotkan sedikitpun…
Akhirnya, kami hanya bisa mengalah dan mencoba mengerti perasaannya, terlebih lagi menghormati sikap hidup, atau bahkan filosofi hidupnya..
==ki daeng terimakasih sudah mampir==
betul ki daeng, sudah ratusan bahkan ribuan pedagang yang tak bisa bayar sewa, akhirnya malah menjadi pengangguran. Melihat kisah si nenek ini, kalau dia dipaksa sewa toko, lha mau bayar pake apa ya? Lha wong barang dagangannya saja dari hasil mengais sisa orang lain…
Pemda menyulap pasar jadi lebih bersih dan nyaman memang oke, tapi mestinya juga harus perhatikan pedagang tanpa modal ini donk. begitu kali ya?
==mas peyek==
ternyata perasaannya halus juga ya, mudah tersentuh. tapi, ya begitulah hidup mas. Kalau kita berpikir susah yang terjadi ya susah, kalau kita berpikir hidup ini indah yang terjadi adalah keindahan, kalau berpikir hidup ini sengsara yang akan muncul adalah sengsara.
saya pernah baca beberapa tulisan “bahwa hidup ini tergantung dari apa yang kita pikirkan”. (Gak tahu ini kata kata siapa ya…)
terima kasih mas peyek sudah mampir
Kirain ente dagang sayur beneran…
jalan-jalan ke pasar tradisional emang asik..
asal ga becek aja sih
Klo disebut pasar, saya selalu teringat pasar ciroyom di Bandung, dan beberapa pasar tradisional lain yang pernah saya lihat. Kondisinya semua hampir sama, kotor, bau dan kurang higienis.
Tapi dengan membaca artikel ini, saya jadi teringat hal –hal kecil yang mengharukan dan menginspirasi…
Mungkin saya terlalu cengeng atau bagaimana, namun melihat kehidupan orang –orang “kecil” yang lebih sulit membuat saya selalu ingin menangis sekaligus haru karena mereka berjuang lebih keras untuk hidup. Sedangkan kadang saya hanya bisa melihat saja, tak bisa berbuat banyak.
Dan tentang masa kecil, saya jadi ingat banyak hal setelah membaca tulisan ini. Namun tak bisa saya ceritakan semua sih ya. Mungkin hanya mampu saya katakan, “saya mempunyai banyak kenangan yang indah di masa kecil. Dan saya bahagia menjadi seorang seperti sekarang ini”. Terima kasih ya Alloh ku yang Maha Baik.
hahaha, mbak indra bisa aja. terima kasih sudah mampir
=nne== iya mbak, tapi kebanyakan pasar tradisional emang kumuh. makanya banyak pemda yang akhirnya menyulapnya menjadi mall. tapi ya itu, banyak nenek nenek dan pedagang kecil lain harus jadi korban. terima kasih sudah mampir
==emina, maturnuwun sudah mampir==
menangis melihat hal-hal yang mengharukan bukan berarti cengeng. Justru di saat seperti ini, di saat banyak orang hanya tahu mengejar duit, diperlukan orang-orang, pembuat kebijakan, dan juga pejabat yang mudah tersentuh hatinya. SEhingga di saat membangun pasar, tidak seenaknya menggusur orang-orang tak berdaya seperti nenek nenek kita.
kasian yah nenek itu…
==verlita==
iya betul mbak. jujur saja, saat menyaksikan langsung di pasar itu, saya sempat tergetar, trenyuh, dan sempat mrinding. mungkin saja kalau anda melihat langsung juga akan merasakan hal yang sama.
terima kasih sudah mampir
wah, masa mudanya nenek itu pasti pekerja keras, sampai2 dimasa tuanya tetap tegar seperti itu..
Subhanallah, luar biasa cara penuturannya, top bang!
Lalu bagaimana dengan fara femuda gagah ferkosa yang lebih memilih meminta-minta? ke mana harga diri-na?
*terharu*
==fetro== mungkin karena keadaan kali yah. tapi bisa jadi memang karena falsafah hidup. terimakasih sudah mampir
==cabe rawit==
iya om cabe, maturnuwun sudah mampir. soal fara femuda gagah ferkosa saia ndak tahu, mungkin mereka sudah ndak kenal lagi dengan nang namana harga diri kali ya. atau mungkin sudah ndak ada filihan lain, sehingga memilih meminta minta…
hix… jadi mikir… kemana anak-anaknya ya? ato keluarga yang lain. gak ngebayang kalo aku sendirian di dunia ini…
kasian… klo jualannya sampai ga laku…
ah, saya hany bisa iba.. selain itu? sama miskinnya saya dengan anda mas!.. mungkin nenek itu lebih kaya daripada kita.. kita tak pernah tau..
==iphan== terima kasih mas iphan sudah mampir. iya, kadang kita baru ingat setelah “mengalami” atau setidaknya mengetahui ada suatu kejadian.
saya sendiri, sampai saat ini belum tahu latar belakang keluarganya, kebetulan saat itu saya sedang nongkrong di warung milik teman saya yang kebetulan ada di dekat tempat nenek itu jualan.
-==Rain==
iya mbak Rain.
Saya jadi ingat berita Sabtu kemarin di televisi. Ada istri tukang becak di Makassar yang sedang hamil tujuh bulan meninggal bersama anaknya karena tiga hari tidak makan.
Sudah separah inikah negeri kita? Negeri yang katanya kaya raya, negeri yang katanya tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. negeri yang tanahnya digali ketemu emas, intan dan batu bara bernilai triliunan itu?
ah, semoga saja masih banyak orang yang mengingatkan saya untuk selalu (setidaknya) peduli…
==gempur==
betul mas, setelah membaca komentar anda, saya baru sadar bahwa ternyata saya lebih miskin dari si nenek.
Setidaknya, si nenek adalah seorang perempuan yang kaya hati, dengan tetap tegar menghadapi cobaan hidupnya di usia senjanya.
Setidaknya, si nenek kaya kehidupan, yang dengan kekayaannya itu bisa mengilhami kita semua untuk bisa belajar dan merenung…
jalan2 kepasar tapi gak belanja.. lha yo mau ngapain donk.. mau copet ya… tolong… tolong.. ada copet nich. tapi manis2 kok jadi copet yach…????
disitulah kebahagiaan menemukan jodohnya. dan sayangnya orang mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki: garwa (pasangan hidup), griya (tampat tinggal), turangga (kendaraan), cucila (klangenan, hobby), satu lagi aku lupa.
==franya==
ssttt… sesama profesi dilarang saling mendahului, hehehe.. matur nuwun mbak franya sampun mampir
==FraterTelo==
iya pak frater, terima kasih sudah nambah referensi. mungkin satunya lagi tahta (kekuasaan) kali ya… maturnuwun sampun mampir
sumpah, aku sedih baca postingan ini
good posting
jika masih ada rasa haru
maka kita masih manusia
jika maih ada haru
maka sayangilah mereka
==hanggadamai==
terima kasih mas. sama seperti anda, saya juga sangat tersentuh, tapi sayangnya, saya terlalu picik, terlalu naif, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa membantu sesaat saja, sehari saja, selanjutnya tak berdaya, selain berdoa
==achoey==
terimakasih mas achoey atas kunjungannya, terimakasih atas nukilan puisinya yang menyentuh