Kawan,
Aku tahu kegetiranmu, aku tahu keresahanmu. Cita-cita muliamu untuk mengubah dunia menjadi lebih indah memang tak semudah membalik telapak tangan. Kamu pasti akan berhadapan dengan tembok kapitalisme, kamu akan bertabrakan dengan kelicikan, kuatnya akar kepentingan, fitnah, dan juga kerak-kerak kehidupan yang telah membudaya. Inilah peradaban baru, peradaban bernuansa kekerasan dan
keresahan, yang lahir dari rahim kapitalisme yang sangat kuat menekan. Itulah yang akan menekan kamu, aku, dan penghuni dunia.
Suratmu yang kau kirim kepadaku sungguh menyentuh. Sebagai seorang dosen, kamu memang wajib menularkan nuranimu kepada mahasiswamu, kepada aku, kepada orang orang, dan kepada semua yang kau temui. Aku juga sering menyaksikan di layar televisi, mahasiswa di kotamu sering berantem, sering melakukan perusakan, sering lebih mengedepankan otot daripada otaknya. Soal mahasiswa di kotamu itu, aku juga heran, tak habis pikir. Kenapa roh akademik, roh penelitian dan penemuan ilmiah baru, roh etika seorang cikal bakal pemimpin negeri ini lebih senang beradu otot daripada beradu argumen. Sungguh, itu sangat berbeda dengan budaya akademik di tempat lain. Konyol, memalukan, dan boleh dibilang mengerikan.
Jumat lalu, aku menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan tepat di hadapanmu. Di kota yang saat ini kamu tinggali, ada seorang ibu, satu anak kecil dan calon bayi meninggal dunia akibat kelaparan. Mereka adalah keluarga tukang becak yang kurang beruntung. Seorang hamba Tuhan yang juga berhak atas penghidupan di negeri ini. Mereka harus menghadap kehadirat NYA terlalu cepat akibat kebijakan negeri ini yang kurang memihak kepada mereka. Menyaksikan kelanjutan kisah keluarga ini, aku jadi miris. Terkadang, secara sengaja aku menampar keras wajah ini dengan telapak tanganku sendiri, seraya bertanya apakah aku sedang hidup dalam mimpi? Rupanya, selama ini memang aku hanya hidup di dunia mimpi. Lebih sering ngomong soal teori, ngomong soal idealisme kosong, ngomong segala sesuatu yang tidak pasti. Padahal, tetangga belakang rumah kita kelaparan karena tidak makan tiga hari, padahal tetangga kita tidak berani keluar rumah karena takut ditagih utang, padahal tetangga depan rumah kita anak-anaknya tidak sekolah.
Oh Tuhan, ampuni dosa-dosa kami, ampuni dosa pemimpin-pemimpin
kami, dan ampuni pula dosa-dosa ulama kami. Karena ternyata, kami lebih sering meminta, lebih sering mengeluh, protes, dan lupa bersyukur atas segala karunia yang telah Kau berikan kepada kami…
Banjarbaru, 4 Maret 2008


argh, dikau juga menampar mukaku sobat. karena apa yang bisa kulakukan hanyalah melihat berita ibu itu sambil makan malam. terkadang bertanya, di mana nuraniku saat itu, hiks…
barangkali kita memang sedang mimpi bersama *hiiii, jijay*
oya, apa mahasiswa yang tawur itu kurang kegiatan yak?
Hmmmm masih berpikir… kenapa bisa terjadi spt itu
memang terlalu kejam dunia ini..
==paman goop==
iya paman, sedih ya… tapi kita harus ngapain yah? Jujur saja, selama ini saya hanya bisa bersedih, hanya bisa merasa, turut berduka, terkadang ikut berdoa, tapi belum bisa berbuat banyak.
Sentuhan-sentuhan kecil yang saya lakukan di sekitar tempat tinggal saya, saya yakin hanya untuk sesaat saja. Sedangkan akar permasalahan masih belum tersentuh sama sekali.
Soal mahasiswa kawan saya itu, saya juga bingung???
maturnuwun paman goop
==chatoer==
mas chatoer, terimakasih sudah mampir. seperti anda, saya juga baru pada taraf mikir dan merasa, action masih terlalu kecil, atau boleh dibilang belum ngefek sama sekali…
==mas hanggadamai==
Terkadang saya juga merasa seperti itu, bahkan terlalu sering malah. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya tak adil menyalahkan dunia, apalagi menyalahkan sang pencipta.
Sesekali saya juga berpikir, kalau saya hanya bisa menyalahkan saja, yang terjadi bukan penyelesaian, tapi justru hanya menambah masalah…
terimakasih sudah mampir
ikut prihatin mas… saya sendiri berkabung 7 hari untuk menghormatinya…
Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlambat dalam menolong umat-Nya, Dia menolong kita tepat pada waktunya, karena Dia buat segalanya indah tepat pada waktunya. namun, kita sebagai umat manusia tidak boleh hanya mengandalkan Tuhan saja, kita harus tetap berusaha dan berbagi dengan sesama sebagai ungkapan syukur kita atas apa yang Tuhan berikan buat kita semua:)
terimakasih atas jawaban yg bijak!
keep fight!
ooh.. saya juga liat berita itu mas, yang meninggal karena kelaparan itu kan… hikz… kacian mereka… tapi, kacian juga tuh ahli gizi dinkes nya, ko bisa yah sampai kecolongan gitu? ck… ck.. ck…
==gempur==
iya mas, berita ini memang cukup menyentuh, sekaligus memprihatinkan kita semua. terima kasih sudah mampir
==babyglam==
Komentar yang sangat bijak, terimakasih mbak sudah memberi masukan ilmu yang bagus. Seharusnya kita memang harus begitu, tidak boleh curiga atau menyalahkan pihak lain, cuman terkadang sesuatu yang menyentuh sering membuat emosi kita meluap-luap. terimakasih sudah mampir
==hanggadamai==
terimakasih mas, sudah mampir. tulisan situ juga bagus bagus, ok.
==RaiN==
betul mbak, kejadian ini seharusnya membuat kita menjadi lebih peka lagi terhadap sekeliling kita, mulai saat ini juga… terimakasih mbak sudah mampir
teguran utk kita semua…
–slamanslumunslamet==
betul mas selamet, saya setuju.. terimakasih
Semoga Tuhan meng-ampuni dosa-dosa kita yang tidak pernah peduli akan sesama kita
amien, terima kasih mas extremusmilitis
gak usah minta ampun hanya karena kita terlalu sering mengeluh. tuhan tahu, kok, seberapa gak mutu nya kita ini. masih ingat dengan “warung senja”?
introspeksi diri – berbuat – bersyukur
==zen==
terima kasih atas kunjungannya. udah lama saya gak ke warung senja nih, kangen juga.
==waterbomm==
saya setuju sekali dengan mas waterbomm. mungkin yang harus lebih banyak kita perbuat adalah bersyukur, karena sesungguhnya kita sudah diberi kelimpahan yang luar biasa oleh NYA