Saat pulang kampung beberapa hari lalu, aku ketemu kawan lama. Calon dokter muda dari Amerika yang masih tetap saja seperti dulu. Tetap nyantai, tetap mbanyol dan tak pernah kehabisan bahan lelucon. Dia pernah bilang, hidup ini adalah panggung srimulat, jadi harus disikapi dengan banyak lelucon. Betapapun kita meratapi nasib ini, tetap saja tidak akan mampu mengubahnya. Jadi, daripada stress, itung-itung dapat pahala dari menghibur orang.
Kali ini, dia membawa cerita yang agak seriyus dari Amerika sono. Katanya, di salah satu kota di negara ini rutin digelar lomba tahunan. Hadiahnya satu miliar dollar. Ya, lomba memeras kain wol yang tebal dan sangat basah. Lombanya digelar di tepi sungai. Jadi, peserta diwajibkan mengangkat kain wol seberat sekitar satu ton itu dari sungai dan memerasnya hingga kering. Kadar kekeringan diukur dengan sebuah mesin yang sangat canggih.
Pesertanya adalah para jagoan di tiap negara di seluruh dunia. Peserta pertama dari Jepang. Dia adalah seorang sumo. Begitu mengangkat kain wol dari sungai dia langsung memerasnya, semua tertegun, semua bersorak sorai. Hasilnya, mesin penghitung menyatakan masih ada kadar air seberar 10 liter.
Peserta kedua berasal dari China, ternyata jagoan kungfu. Dengan gayanya yang khas kungfu, dia meliuk-liukkan tangannya dan mulai mengangkat dan memeras kain wol tersebut. Penonton terkesima dan bertepuk tangan melihat ketrampilannya. Kadar airnya tinggal 7 liter.
Peserta ketiga berasal dari Amerika. Di luar dugaan, ternyata yang diajukan adalah Arnold Swarzeneger. Dengan gayanya yang sering ditampilkan di film-film, dia langsung menarik wol itu dan memerasnya. Karena digelar di Amerika sana, aplaus penonton tampak meriah luar biasa. Hampir semua penonton memberikan standing aplaus berkepanjangan. Hasilnya, ternyata masih ada sisa air 2 liter air.
Nah, giliran peserta keempat. Dia seorang lelaki tua asal Indonesia. Untuk maju ke panggung lomba, dia harus dipapah dua orang. Sejenak arena lomba hening. Semua orang terkesima. Siapa gerangan seorang tua renta yang berani-beraninya menantang jagoan-jagoan tingkat dunia itu. Tanpa banyak omong, dia langsung mengangkat kain wol seberat satu ton itu dari sungai, dan dalam sekejap dia memerasnya dengan sekali putar. Hasilnya, ternyata kain wol itu kering sama sekali. Tidak ada kadar air sedikitpun di kain wol itu.
Semua penonton terbengong-bengong. Semua terkesima, karena setelah puluhan tahun digelar lomba ini, baru kali ini ada seorang peserta bisa mengeringkan kain wol tanpa ada sisa kadar air sedikitpun.
Kontan saja semua orang mendekat, tentu saja termasuk wartawan seluruh stasiun televisi terkemuka di Amerika dan seluruh dunia. Para wartawan minta waktu khusus untuk mewawancarainya. Ada dua pertanyaan yang paling banyak dikemukakan para wartawan ini, siapa gerangan ahli memeras ini, dan apa latar belakang profesinya. Ternyata, peserta dari Indonesia yang sangat kurus ini agak susah ngomong karena habis terserang stroke.
Dengan agak tertatih-tatih dan suaranya yang berat, juara kontes memeras tingkat dunia ini bicara, “Saya pensiunan jaksa….” (Semua orang pun saling pandang.)
Ini kisah dari kawan loh, namanya mmi, dia bukan calon dokter, tapi baru saja pulang dari dokter karena istrinya baru saja melahirkan anak keduanya…
Banjarbaru,
Kamis, 31 Januari 2008

