Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2008

Kawan,
Aku tahu kegetiranmu, aku tahu keresahanmu. Cita-cita muliamu untuk mengubah dunia menjadi lebih indah memang tak semudah membalik telapak tangan. Kamu pasti akan berhadapan dengan tembok kapitalisme, kamu akan bertabrakan dengan kelicikan, kuatnya akar kepentingan, fitnah, dan juga kerak-kerak kehidupan yang telah membudaya. Inilah peradaban baru, peradaban bernuansa kekerasan dan
keresahan, yang lahir dari rahim kapitalisme yang sangat kuat menekan. Itulah yang akan menekan kamu, aku, dan penghuni dunia.

Suratmu yang kau kirim kepadaku sungguh menyentuh. Sebagai seorang dosen, kamu memang wajib menularkan nuranimu kepada mahasiswamu, kepada aku, kepada orang orang, dan kepada semua yang kau temui. Aku juga sering menyaksikan di layar televisi, mahasiswa di kotamu sering berantem, sering melakukan perusakan, sering lebih mengedepankan otot daripada otaknya. Soal mahasiswa di kotamu itu, aku juga heran, tak habis pikir. Kenapa roh akademik, roh penelitian dan penemuan ilmiah baru, roh etika seorang cikal bakal pemimpin negeri ini lebih senang beradu otot daripada beradu argumen. Sungguh, itu sangat berbeda dengan budaya akademik di tempat lain. Konyol, memalukan, dan boleh dibilang mengerikan.

Jumat lalu, aku menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan tepat di hadapanmu. Di kota yang saat ini kamu tinggali, ada seorang ibu, satu anak kecil dan calon bayi meninggal dunia akibat kelaparan. Mereka adalah keluarga tukang becak yang kurang beruntung. Seorang hamba Tuhan yang juga berhak atas penghidupan di negeri ini. Mereka harus menghadap kehadirat NYA terlalu cepat akibat kebijakan negeri ini yang kurang memihak kepada mereka. Menyaksikan kelanjutan kisah keluarga ini, aku jadi miris. Terkadang, secara sengaja aku menampar keras wajah ini dengan telapak tanganku sendiri, seraya bertanya apakah aku sedang hidup dalam mimpi? Rupanya, selama ini memang aku hanya hidup di dunia mimpi. Lebih sering ngomong soal teori, ngomong soal idealisme kosong, ngomong segala sesuatu yang tidak pasti. Padahal, tetangga belakang rumah kita kelaparan karena tidak makan tiga hari, padahal tetangga kita tidak berani keluar rumah karena takut ditagih utang, padahal tetangga depan rumah kita anak-anaknya tidak sekolah.

Oh Tuhan, ampuni dosa-dosa kami, ampuni dosa pemimpin-pemimpin
kami, dan ampuni pula dosa-dosa ulama kami. Karena ternyata, kami lebih sering meminta, lebih sering mengeluh, protes, dan lupa bersyukur atas segala karunia yang telah Kau berikan kepada kami…

 Banjarbaru, 4 Maret 2008

Iklan

Read Full Post »